Saturday, November 12, 2016

Tips Belanja Online

Belanja Online
Pernah belanja Online di Marketplace terkenal? Atau yang gak terkenal sama sekali? Atau mungkin belanja di Onlineshop yang sedang menjamur di Instagram?

Well.. Sebagai pelanggan beberapa marketplace yang beberapa kali repeat order dan juga sebagai pecinta onlineshop dan reseller kecil-kecilan, saya akan mencoba berbagi tips mengenai bagaimana sih berbelanja dengan aman dan nyaman via online ini?

Terutama untuk ibu-ibu ataupun bapak-bapak yang sibuk, daripada muter-muter nyari barang ke toko atau ke mall, belum macetnya belum capeknya karena dari pagi sampe sore harus kerja, belanja online adalah sebuah alternatif yang tentunya menjadi sebuah solusi di jaman yang serba canggih dan online ini.

Bagaimana memilih online shop atau marketplace yang dapat dipercaya?
Berikut tips-tips belanja online menurut sedikit pengalaman saya. :D

1. Pilih Marketplace dan Seller Terpercaya

Marketplace mulai menjamur dengan dipelopori oleh beberapa brand ternama. Ketika kita memutuskan untuk berbelanja, pastikan sistem yang diberlakukan oleh marketplace aman dan sellernya juga terpercaya.

Sebaiknya lihat review dari pembeli untuk melihat kepuasan pelanggan pada masing-masing produk. Perbandingan harga tiap marketplace juga bisa dilakukan (emak2 banget ini sih) :P

Kalau belum ada review pembeli, sebaiknya hati-hati, karena tidak semua seller bisa dipercaya.

2. Perhatikan Detail Keterangan Produk

Membeli barang online tentu saja kita tidak bisa menyentuh barang secara langsung apalagi mencobanya (terutama untuk item fashion). Jadi, perhatikan betul keterangan dan deskripsi lengkap produk. Misalnya, bahannya apa? Ukuran atau dimensi berapa? Warna dan modelnya. Biasanya satu produk ada beberapa gambar dari tampak depan, belakang dsb.

Foto produk selalu dirilis semenarik mungkin untuk menarik pembeli, jadi jangan terlalu ber-ekspektasi lebih saat melihat gambar, pastikan saja keterangannya cukup sesuai dengan keinginan.

3. Cara Pembayaran

Beberapa Marketplace menggunakan sistem pembayaran konfirmasi cepat dengan memasukkan kode perusahaan dan kode pembelian. Ada juga yang masih manual dan harus upload bukti pembayaran. Selain kedua cara tsb, bisa juga dengan menggunakan virtual account, yang juga mendukung konfirmasi cepat.

Pastikan anda memilih rekening sesuai dengan yang anda gunakan. Dan simpan bukti pembayaran tsb, sampai barang yang anda pesan datang.

Beberapa Marketplace juga melayani COD (Cash on Delivery) pada kota-kota tertentu. Apabila kotamu termasuk, bersyukurlah. Untuk yang merasa kurang percaya dengan sistem transfer, bisa menggunakan alternatif pembayaran dengan COD ini. Pastikan anda ada di tempat saat kurir akan mengantar barang, biasanya diinformasikan melalui telepon/sms, dan siapkan uang pas atau lebih untuk jasa kurir apabila diperlukan. :)

4. Alamat Pengiriman

Selalu gunakan alamat lengkap dan jelas beserta kode pos & kecamatan sebagai alamat pengiriman belanja online anda. Jangan lupa sertakan no HP anda.

Usahakan alamat tujuan pengiriman yang selalu ada orang, terutama saat jam kerja. Karena apabila dikirim saat tidak ada orang tentu akan merepotkan kurir dan harus kembali lagi untuk mengirimnya.

5. Periksa Barang

Yang terakhir, saat barang anda datang, periksalah terlebih dahulu apakah sesuai dan tidak ada kerusakan/cacat.

Barang rusak/cacat masih bisa dikembalikan dan diganti baru apabila masih dalam jangka waktu refund sesuai aturan yang berlaku pada marketplace.

Demikianlah sharing tips belanja online menurut saya, mungkin ada tips yang lain dari kamu?
Happy Shopping!


Pic taken from: http://www.chip.co.id/asset/public/articles/images/inilah_situs-situs_jual_beli_kelas_dunia_yang_paling_eksis_151211_0.jpg

Monday, October 3, 2016

Tawaran Program Peningkatan Kemampuan Bahasa Inggris bagi Tenaga Kependidikan Tahun 2016



Dalam rangka meningkatkan kualifikasi sumber daya manusia khususnya peningkatan kemampuan berbahasa asing, Ditjen Sumber Daya Iptek Dikti melalui Direktorat Kualifikasi Sumber Daya Manusia akan menyelenggarakan Program Peningkatan Kemampuan Bahasa Inggris bagi Tenaga Kependidikan di Lingkungan Kemenristekdikti.

Sehubungan dengan hal tersebut, bagi pelamar yang berminat dan memenuhi ketentuan dapat mendaftarkan diri secara daring (online) dan melengkapi dokumen persyaratan.

Unduh :
  1. Daftar Program Kemampuan Bahasa Inggris  Tenaga Kependidikan Tahun 2016
  2. Surat Tawaran Program Kemampuan Bahasa Inggris bagi Tenaga Kependidikan Tahun 2016


Source:  hhttp://sumberdaya.ristekdikti.go.id/index.php/2016/09/30/tawaran-program-peningkatan-kemampuan-bahasa-inggris-bagi-tenaga-kependidikan-tahun-2016/

Wednesday, September 28, 2016

Pentingnya Update Antivirus

Welcome Back!

Sorry.. Been a long time since I write here..

Well.. Karena sibuk dan hal lainnya, dan lebih sering nulis juga yang ringan-ringan di Blog Curhat dan Blog Kumpulan Quote, akhirnya dapat ide juga yang ingin dipost di sini.

Okay..

Mungkin ketika kita sudah berada di zona nyaman, dan lupa ketika sedang menggunakan komputer kita sering membiarkan PC tanpa antivirus. Atau antivirusnya tidak di-update.

Setiap hari, hampir selalu ada virus baru, yang tentunya akan diimbangi dengan update-an antivirus terbaru juga. Itulah sebabnya untuk kesehatan PC kita sebaiknya jangan pernah lupa untuk update antivirus, terutama yang sering menggunakan internet. Untuk yang jarang online, sebaiknya juga dijadwalkan untuk selalu update karena infeksi virus dan malware tidak hanya menyerang dari jaringan internet juga, tetapi dari pertukaran data melalui flashdisk maupun hardisk eksternal yang terinfeksi.

Kemarin ketika sedang menggunakan PC di Kantor saya, karena ruangan kami pindahan, tentunya ada beberapa barang yang tidak sesuai dengan kondisi semula. Ada sebuah printer yang terhubung dengan PC yang berbeda dengan asalnya.

Karena Fitur Scan yang ada di Printer tsb tidak bisa digunakan dengan maksimal tanpa driver scannernya, jadilah berniat men-download driver Scannya.

Ketika mendownload lihat dulu versi OS dan berapa bitnya, misal Windows 8.1 64 bit, tentu berbeda dengan Windows 8 untuk Drivernya. Cara melihatnya melalui Windows + R, ketik dxdiag.

Dan ketika konek ke internet tidak kunjung bisa, cobalah dicari kenapa sebabnya. Ternyata DNSnya bukan yang biasanya dipakai di kantor. So, ubah deh karena memang untuk IP dan DNS kita setting manual.

Next, koneksi internet pun lancar. Download driver printer & scan dulu sesuai dengan tipe printernya.

Tidak berapa lama koneksi internet gagal lagi. Lihat Konfigurasi IP lagi, DNSnya berubah lagi. Demikian berkali-kali sampai ngecek di running process yang ada di Task Manager dan service-service yang berjalan, ada sesuatu yang mencurigakan. Kalau sering lihat task manager kondisi PC normal mungkin bisa paham. Lokasi file yang mencurigakan itu biasanya ada di process, service, dan start up.

Oke, kemungkinan malware atau virus yang bisa juga disebut DNS Changer, karena udah lama sekali nggak bergelut dengan virus dan kroni-kroninya jadi gak gitu paham juga nama virusnya.

Saran saya untuk anak IT yang masih belajar juga, jangan pernah takut ketika System terkena virus. Don't panic.

Virus hanyalah sebuah program atau aplikasi dengan berbagai kode program atau script yang dirancang untuk merusak file system dari sebuah Sistem Operasi. Yang paling rentan memang Windows. Yeah you know lah. Windows menguasai pasar Sistem Operasi karena kemudahannya dan banyak versi non original-nya..

Ada banyak cara untuk memulihkan sistem yang terkena virus. Kita bisa saja mengembalikannya dengan manual (oprek regedit dsb), scan dan clean dengan antivirus yang pro dan update, kalau sudah parah, the last choice is: re-install atau install ulang system.

Untuk kasus kemarin, setelah cek antivirus yang dipakai, ternyata masih menggunakan SMADAV 2015, lama tidak di-update.

So, coba install SMADAV yang pro, kemudian melakukan update. Scan sistem dan taraaa.... tertangkaplah sudah para virus dan malware penyebab DNS berubah-ubah itu.

Setelah selesai, ubah DNS sesuai konfigurasi yang seharusnya. Lakukan restart. Dan cek DNS lagi setelah PC beroperasi kurang lebih 30 menit. Hanya untuk memastikan tidak ada perubahan DNS lagi oleh malware dan teman-temannya.

So.. itulah sedikit cerita tentang maintenance PC di kantor. 

Pesan yang bisa ditangkap, jangan pernah lupa untuk update antivirus dan lakukan scan secara berkala. Jangan lengah, karena di luar sana ada banyak ancaman terhadap sistem yang sedang anda gunakan. 

Akhir kata, semoga bermanfaat sharing kali ini.

See you next post!

Tuesday, March 22, 2016

Demo Sopir Taksi dan Fenomena “Sharing Economy”

Tulisan Pak Rhenald selalu bagus dan bernas. :) That's why we must read it!

Selasa, 22 Maret 2016 | 05:40
Oleh: Rhenald Kasali

Karena sharing, maka menjadi murah. Selamat datang anak-anak muda pembaharu!
Mereka memang berbeda dengan orang-orang tua yang dibesarkan dalam peradapan “memiliki.” Orang-orang tua tahunya berbisnis itu harus membeli dan menguasai. Jadinya semua mahal. Mobil harus beli sendiri, tanah, gedung, pabrik, bahan baku, semua disatukan dengan nama pemilik yang jelas.

Akibatnya modal jadi besar. Mau buka mal urusannya banyak. Sedangkan generasi milenials cukup pergi ke dunia maya. Serahkan pada pada robot (digital technology), lalu berkumpullah para pemilik barang untuk membuka lapak di sana dan berbagi hasil.

Sama juga dengan membuka usaha transportasi. Yang mahal hanya ide, lalu buat aplikasinya. Siapapun yang punya kendaraan bisa bergabung, dan malam harinya kendaraan tersebut diparkir di rumah masing-masing. Tak perlu jasa keamanan atau pol taksi.

Akibatnya wajar, kalau sebagian generasi tua gagal paham menyaksikan ulah mereka yang memurahkan segala macam harga.
Kalau ini mewabah, gila! Indonesia bakal dilanda deflasi, bukan inflasi. Tapi kini mereka dituduh menerapkan strategi harga predator yang bisa diperkarakan Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU). Ongkos taksi yang harusnya Rp 150.000, cuma dihargai Rp 70.000.
Kamar penginapan yang permalamnya Rp 1 Juta ditawarkan Rp 200.000. Apa betul ini persaingan tak wajar?

Belum lagi gadget, tiket, atau perabotan sehari-hari. Milenials bukan saja pribumi di dunia digital, melainkan juga mempraktikkan sharing economy.

Kriminalisasi atau Legalisasi
Tapi gini ya, ini bukan prostitusi online yang bekerja sembunyi-sembunyi. Mereka hadir terang-terangan di depan mata kita. Bahkan kita sesekali mencicipinya. Tetapi sebagian orang sering menyamakan mereka dengan bisnis ilegal.

Persepsi ini diperburuk oleh ketidakmengertian kita tentang sharing economy yang gejalanya sudah marak di mana-mana. Kita bilang mereka menerapkan strategi “predatory pricing“. Kita juga bilang, aspek keamanan mereka tak terjamin.

Kedua isu itu sudah mereka diskusikan sejak 3 tahun yang lalu. Makanya mereka mengembangkan sistem komunal dan rating. Siapapun yang reputasinya buruk dari consumer experience, mereka drop dari komunitas berbagi itu. Sejarah hidup mereka di-review dari perilaku sehari-hari di dunia maya.

Maka, bagi para orang tua, cara kerja anak-anak muda ini sulit dipahami. Sebagian pengambil kebijakan dan para pelaku usaha lama yang sudah terikat dengan fixed cost yang besar, menuntut agar usaha mereka dihambat. Atau kata publik, dikriminalisasi. Ditangkap, dijebak, dibubarkan, diblokir, dan diusir dari republik ini.

Namun susahnya, dunia sharing ini adalah dunia yang tak mengenal batas-batas negara. Diusir dari sini, ia bisa dioperasikan dari luar negeri. Di luar negri, kriminalisasi, denda dan larangan sudah dilakukan berkali-kali, tetapi mereka kembali hidup lagi di tempat lain, bahkan dimodali Silicon Valley.

Saya sendiri memilih jalan perubahan. Anda tak akan mungkin melawan proses alamiah ini. Daripada terus bertengkar, lebih baik beradaptasi.

Sejak dulu, para ahli sudah mengingatkan, teknologi baru menuntut manusia-manusia berpikir dengan cara baru. Kata Peter Drucker, New Technology X Old Mindset hasilnya: Fail! Gagal! Jadi teknologi baru butuh mindset baru. Itu baru menjadi kesejahteraan.

Jadi, para pelaku usaha yang lama harus berubah seperti tukang-tukang ojek pangkalan yang kini sudah berjaket hijau atau biru.

Sebagian customer masih nyaman pakai taksi langganannya. Tetapi pasarnya tinggal sedikit. Tak sebesar dulu lagi. Nah sebagian lagi, harus disiapkan dengan platform baru: sharing economy. Dan ingat, sebentar lagi pemilik-pemilik hotel pun akan berdemo dan para pekerjanya menuntut airbnb.com, couchsurfing.com dan sejenisnya dibubarkan.

Harta-harta Yang Menganggur
Problem yang muncul dari peradaban owning economy adalah sampah menumpuk dimana-mana, karena semua manusia ingin memiliki sendiri-sendiri. Jalanan jadi super macet di seluruh dunia, air semakin kotor dan gap kaya-miskin begitu besar.

Semua ini disebabkan oleh tragedi kapitalisme yang menghargai penumpukan modal, hak-hak kekayaan individu “yang tak mau berbagi” secara adil dengan efek penguasaan aset-aset strategis.

Padahal dulu, orang-orang tua kita hidup dalam sistem berbagi. Mereka hidup di kampung dan bebas melintasi tanah milik orang lain atau tanah ulayat yang tak berpagar.
Suasananya berubah, begitu tanah-tanah itu dikuasai orang lain yang mampu mengubah status tanahnya. Mereka tak lagi berbagi bahkan untuk sekadar numpang lewat saja.

Peradaban owning economy membuat individu-individu tertentu cepat mengendus harta-harta strategis, dan memagarinya, walau untuk jangka waktu yang lama tak digunakan.

Akibatnya di abad 21 ini lebih dari 50 persen tanah-tanah itu menganggur. Termasuk lahan-lahan pertanian yang kelak akan dialihfungsikan. Maka ia hanya ditumbuhi ilalang dan dipagari tinggi. Para ekonom menyebut istilahnya sebagai underutilized atau idle capacity. Boros, menganggur, tak produktif.

Pabrik-pabrik, perkebunan, vila mmewah, mobil-mobil keren, semua dikuasai, tetapi belum tentu dipakai sebulan sekali oleh pemiliknya. Menjadi rumah hantu atau pajangan tak bermanfaat. Nice to have, only!

Sampailah muncul teknologi baru, dengan generasi perubahan. Bagi kaum muda sharing economy dianggap sebagai penyelamat planet ini dari keserakahan manusia. Mereka menggagas ideologi-ideologi praktis tentang kesempatan berbagi. Setelah kewirausahaan sosial, lalu sharing economy.

Mereka bilang, “buat apa membeli yang baru, kalau barang-barang yang lama saja masih bisa dipakai orang lain.” Maka jutaan barang-barang bekas yang ada di garasi dan gudang rumah dijual kembali via e-Bay, OLX atau Kaskus. Gila, piringan hitam zaman dulu hidup lagi. Velg-velg mobil yang sudah langka kini bisa ditemui.

Setelah itu kebun-kebun yang menganggur ditawarkan kepada anak-anak muda yang mau bertani, hasilnya mereka bantu jualkan langsung ke konsumen via igrow.com. Lalu pemilik-pemilik rumah-rumah atau satu-dua kamar yang kosong ditawarkan. Bahkan ada tuan rumah yang menawarkan jasa plus sebagai guide buat jalan-jalan. Persis seperti menginap di rumah paman.

Di Perancis ada komunitas yang menawarkan mesin cuci pakaian, bahkan juga mesin cuci piring. Di Indonesia, ada yang menawarkan jasa pijet, yang pesertanya bahkan ada lulusan D3 fisioterapi untuk merawat pasien stroke. Prinsipnya, lebih baik jadi uang daripada rusak tak terawat; lebih baik murah tapi terpakai penuh ketimbang underutilized.

Ketika sharing economy menjadi gejala ekonomi yang marak, maka gelombang ini akan terjadi: Deflasi karena harga-harga akan turun, ledakan pariwisata dalam jumlah yang tak terduga karena banyak pilihan menginap yang murah, aset-aset milik masyarakat yang mengganggur menjadi produktif, dan kerusakan alam lebih terjaga.

Sebaliknya, ia juga menimbulkan dampak-dampak negatif: Pengangguran bagi yang tak lolos dalam seleksi alam (persaingan) dengan business model baru ini, kerugian-kerugian besar dari sektor-sektor usaha konvensional yang konsumennya shifting (berpindah), dan kriminalisasi oleh para penegak hukum atau pembuat kebijakan yang terlambat mengatur.

Sekarang negara punya dua pilihan.
Pertama, tetap hidup dalam owning economy, dengan risiko pasar yang besar ini menjadi ilegal economy dengan operator pengendali dari luar Indonesia.
Kedua, melegalkan sharing economy dan mendorong pelaku-pelaku lama menyesuaikan diri.
Silahkan direnungkan!

Sumber: bisniskeuangan.kompas.com